Header Ads


Keraton Kanoman, Gelar Ritual Pencucian Gong Sekaten

Kota Cirebon (89,2 CR) - Keluarnya Gong Sekaten dari Bangsal Ukiran (Gedong Pejimatan) merupakan tradisi yang berlangsung dalam satu tahun sekali tepatnya pada tanggal 07 Muwal-Pat-Ma (Mulud) Kalender Aboge Keraton. Proses keluarnya Gong Sekaten ini menjadi penanda akan dibunyikanya Gong Pusaka tersebut. Momen keluarnya Gong Sekaten menjadi salah satu kesempatan bagi masyarakat Cirebon dan sekitarnya untuk menyaksikan secara langsung bagaimana wujud rupa Gamelan pusaka yang hanya muncul sekali dalam setahun itu.

Ratu Raja Arimbi Nurtina, ST., M. HumJuru Bicara Kesultanan Kanoman menjelaskan, Gong Sekaten merupakan seperangkat Gamelan pusaka milik Keraton Kanoman Cirebon yang awalnya dari Keraton Demak. Gamelan Sekaten itu dihadiahkan kepada Ratu Wulung Ayu (putri Sunan Gunung Jati dengan istrinya Nyimas Tepasari dari Majapahit) yang pada saat itu baru saja ditinggal wafat suaminya, yakni Adipati Unus atau Pangeran Sabrang Lor, Raja Demak Bintoro kedua setelah Raden Fattah. Pada saat Ratu Wulung Ayu hendak pulang ke Cirebon, putri Sunan Gunung Jati tersebet diberikan hadiah oleh Sultan Trenggono, Raja Demak Bintoro ke III. Oleh Ratu Wulung Ayu Gamelan Sekaten itu dibunyikan setiap bulan mulud dalam peringatan Panjang Jimat.

"Pada saat Keraton terpecah menjadi dua Sultan, Gamelan Pusaka tersebut jatuh waris kepada Sultan Kanoman kang Jumeneng ing Keraton Kanoman dan sampai sekarang, Gamelan Sekaten masih tetap menjadi tradisi yang dikeluarkan dan dibunyikan pada bulan Mulud untuk menghormati kelahiran Gusti Rosul dan media Islamisasi di Cirebon," jelasnya. 

Gamelan pusaka tersebut menjadi saksi bisu kebesaran tradisi Islam di Cirebon tepatnya di Keraton Kanoman Cirebon. Gong Sekaten hanya boleh dikeluarkan dan diambil oleh abdi dalem Keraton Kanoman dengan disaksikan oleh Sultan Raja Muhammad Emirudin (Sultan Kanoman XII) atau Patih beserta para Pinangeran Keraton Kanoman.

Prosesi keluarnya Gamelan Sekaten didahului dengan berkumpulnya para pinangeran di Bangsal Jinem, lalu setelah dirasa cukup, Pangeran Patih Raja Muhammad Qadiran, Patih Kesultanan Kanoman menghaturkan sembah izin untuk memulai prosesi kepada Kanjeng Gusti Sultan Raja Muhammad Emirudin, Sultan Kanoman XII. Setelah menghaturkan sembah izin, Pangeran Patih beserta para pinangeran beserta abdi dalem Panca Pitu dan Nayaga Gamelan bersiap menuju Bangsal Ukiran / Bangsal Pejimatan guna melakukan ritual dan doa di dalam Bangsal Ukiran. 

"Setelah para pinangeran dan abdi dalem berkumpul di dalam Bangsal Ukiran, Pangeran Komisi kemudian menghaturkan sembah izin kepada Pangeran Patih Raja Muhammad Qodiran sebagai perwakilan Sultan," paparnya. 

Setelah diizinkan, baru kemudian acara ritual dan doa dimulai dengan dipimpin oleh penghulu atau kaum. Setelah prosesi ritual dan doa selesai dipanjatkan, para Pinangeran beranjak berdiri di depan Bangsal Ukiran dengan berbaris rapih, untuk melihat dan menyambut seperangkat Gamelan Sekaten dikeluarkan oleh rombongn abdi dalem yang dibawa dengan sangat hati-hati, untuk dibasuh dan disucikan di Langgar Keraton Kanoman. [Wlk]

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.