Header Ads


Kesultanan Kanoman Cirebon Gelar "Pitulikuran" Di Penghujung Ramadhan

Kota Cirebon (89,2 CR) - Tradisi Pitulikuran di Keraton Kanoman merupan tradisi yang bertujuan mengharapkan berkah turunya malam lailatul qadar. Tradisi ini diaplikasikan melalui prosesi doa tawasul yang dipanjatkan di Paseban tepat pada tanggal 27 Ramadhan Kalender Aboge Keraton. Namun pada kesempatan kali  ini diperingati pada 26 Don-Nem-Ro karena mengikuti kebijakan pemerintah yang awal puasanya lebih dulu sebelum kalender aboge. 

Ratu Raja Arimbi Nurtina, S.T., M.Hum Juru Bicara Keraton Kanoman mengatakan, dalam prosesi Pitulikuran ini, para abdi dalem dari rombongan  Panca Pitu dan Panca Sanga mempersiapkan segala kebutuhan yang harus disajikan untuk kebutuhan  prosesi tersebut. Adapun sajian yang dibutuhkan untuk keperluan tradisi 

"Kami menyediakan Pisang Raja, Plenyon, Pisang Ambon, Wajik, Geblog merah, Ketan Putih, Geblog kuning, Aneka Bangket, Geblog putih, Kastengel, Geblog hitam, Slebes, Semprit putih, Trempeyek, Semprit Coklat, Manisan Tengkuwe, Bolu, Rengginan, Ladu, Orong-orong, Kripik gedang, Nastar, Kuping gajah, Seroja, Kolang-kaling, Cerme, Kiamis, Kurma, Gula batu, Penutup kain, Damar Malem, "jelasnya kepada Cirebon Radio, Sabtu (1/6/19). 
Komposisi makanan di atas akan ditaro di atas Ancak, satu wadah yang ditopang dengan Bendana sebagai alas kakinya dan diikat dengan seutas tali dari batang pohon pisang (kedebogan). 

"Adapun mengenai proses pembuatan Kue Bangket, yakni bahanya terdiri dari tepung beras, telor ayam / bebek, kecuali telor puyuh, mentega dan gula pasir. Pada awalnya telur dan gula dikocok sampai mengeluarkan busa, lalu dikasih tepung beras, kemudian dicampur dan dipipih lalu kemudian dicetak. Setelah itu, baru kemudian diopen / dibakar. Dalam proses pembuatan Kue Bangket ini para ratu terus-menerus melantunkan solawat," tambah dia. 

Mula-mula, para Pinangeran dan Pangeran Patih Raja Muhammad Qodiran berkumpul di Blandongan Jinem, guna menunggu kehadiran Sultan Raja Muhammad Emirudin, Sultan Kanoman XII. Setelah Sultan keluar dari gedung Kaputren menuju ke Jinem, para Pinengeran kemudian berdiri untuk menyambut kedatangan Sultan sambil sungkem satu per satu diikuti oleh para abdi dalem. 

"Setelah itu baru kemudian, Pangeran Patih Raka Raja Muhammad Qodiran menghadap Sultan untuk memohon izin, bahwa doa prosesi Pitulikuran akan segera dimulai. Setelah Sultan menerima laporan kesiapan dari Pangeran Patih, baru kemudian Sultan mengizinkan dan Pangeran Patih segera mengondisikan para Pinangeran untuk bergegas menuju Pendopo Paseban, melalui Lawang Kajaksan,"lanjutnya. 
Setelah semua berkumpul di Paseban, barulah kemudian ketua Kaum matur kepada Sultan atau Patih untuk meminta izin memulai doa tawasul di Paseban. Pembacaan doa tawasul ini memakan waktu kurang lebih satu jam. Beragam makanan yang sudah disiapkan dan disajikan di Pendopo Paseban. Setelah doa selesai, barulah kemudian beragam makanan yang ada di atas ancak itu  k
emudian dibagikan kepada margesari, abdi dalem dan para Pinangeran. [Wlk]








Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.