Header Ads


Diskusi JCK Minta Jaga Persatuan Pasca Pemilu 2019

Kota Cirebon (89,2 CR) - Jaringan Cirebon untuk Kemanusiaan mengadakan Diskusi Publik dengan tema "Mempererat Ukhuwah Wathoniyah dengan Semangat Idhul Fitri Pasca Pemilu Serentak 2019", di salah satu kantin yang ada di Jalan Perjuangan Kecamatan Kesambi, Kota Cirebon. 

Kegiatan ini diisi narasumber seperti Kepala Dinas Komunikasi dan Informasi (DKIS) Kota Cirebon, Iing Daiman, KH. M. Ma’shum HDA Al-Mustawa, dan Ahmad Kaelani, serta dihadiri oleh puluhan peserta yang terdiri dari berbagai profesi, akademisi, aktivis Cirebon, dan mahasiswa di Kota Cirebon.

Iing Daiman menyampaikan, Cirebon sejak 2011 terpilih sebai Kota Cerdas. Budaya kearifan lokal tidak bisa ditinggalkan, karena budaya lokal adalah pendorong dan pondasi utama masyarakat yang perlu dijaga dan dikembangkan. 

"Terkait dengan pemilu, dilihat dari kacamata Keminfo, sempat kita temui adanya pemblokiran akses wa sementara, dan adanya pembatasan konten untuk di upload dalam dunia sosial. Oleh sebab itu  saring dulu informasi tersebut sebelum share, kemudian cek kebenarannya sebelum menyebarkan informasi yang didapat," katanya, Selasa (25/6/19). 

KH. M. Ma’shum HD Al- Mustawa yang juga tokoh agama ini menyampaikan, Indonesia tidak bisa dikalahkan dengan agresi militer. Karena Indonesia menganut pembelaan rakyat semesta. Satu - satunya jalan yang bisa dilakukan untuk melumpuhkan Indonesia adalah melalui ide generasi mudanya, melalaui sosial media, dan merusak melalui narkobanya, minuman kerasnya. 

"Kota Cirebon termasuk dalam zona merah narkoba se-Indonesia. Sepenggal surga ada di Indonesia maka tidak heran banyak negara-negara lain yang menginginkan Indonesia, banyaknya suku, pulau, tambang, sumberdaya alam melimpah, semuanya baiik-baik saja hingga hari ini," katanya 
Dalam Pilpres 2019 seolah dimanfaatkan oleh sekelompok golongan entah itu tititpan suatu negara atau kelompok yang ingin merampas 

Indonesia, menyebarkan banyak berita-bertia bohong, dengan penampilan seolah-olah Islam. Tapi kerjaanya memecah belah perdamain, memecah belah kerukunan masyarakat.

"Padahal apa sih yang lebih penting dari semua ini? Yaitu kemanusiaan. Islam itu tidak saling menyakiti, tapi menghargai dan melindungi, meskipun kita berbeda agama, suku, kepercayaan, Islam tidak pernah pilih kasih. Inilah kekuatan islam yang di terapkan di Indonesia," ujaranya

Sementara itu, Ahmad Kaelani yang juga Aktivis Muda Nahdlatul Ulama mengemukakan, adalah yang menarik dalam mengamati pemilu 2019. Sebab Pemilu 2019 berbeda dengan pemilu sebelum-sebelumnya. Selain pemilu kali ini digelar serentak, juga pemilu 2019 sama dengan el-clasicco, yakni pemilu yang dinanti-nanti.

"Yang mengkhawatirkan yaitu adanya penyebaran hoax di kalangan masyarakat sehingga dapat mempengaruhi perubahan sosial di masyarakat. Di pemilu 2019 ini ada sebagian kelompok yang beranggapan bahwa kemungkaran yang terjadi hanya bisa diselesaikan dengan tangan, di mana fungsi tangan terlihat hanya untuk digerakkan dengan kekuaatan otot," katanya.

Di sisi lain ada juga yang beranggapan syair ini adalah lagu NU. Padahal isinya adalah tentang cinta tanah air, karena penciptanya adalah kalangan pesantren maka bahasnyanya pun Arab. Di beberapa daerah, lagu ini juga dinyayikan di gereja. Sudah terbukti bahwa sebetulnya Indonesia ini sangat toleran, dan nasionalis.

"Maka kita harus cerdas dan jangan sampai dengan mudah menyerahkan diri untuk terkontaminasi dengan hoax yang dapat memecah belah persatuan dan kesatuan kita," ujar Kaelani. [Wlk]

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.