Header Ads


'Roma': Hidup Tak Pernah Sesederhana Film Hitam Putih

Menyaksikan seorang sutradara mempunyai kontrol penuh atas karyanya adalah sebuah hadiah bagi para pecinta film. Apalagi jika sutradara tersebut bernama Alfonso Cuaron. Sepertinya apapun yang ia sentuh menjadi sebuah maha karya. 

'Y Tu Mama Tambien' membuktikan bahwa film road trip remaja bisa memberikan dampak fenomenal terhadap penontonnya. 'Harry Potter and the Prisoner of Azkaban' menjadi entry terbaik yang pernah ada (kita bisa berargumen lebih panjang soal ini tapi hanya Cuaronlah yang bisa menyederhanakan konsep kalung pemutar waktu dengan brilian).

'Children of Men' adalah salah satu science fiction terbaik yang kita miliki. Dan 'Gravity' membuktikan bahwa Cuaron tidak hanya ahli dalam bercerita tapi juga berinovasi. Ia tidak pernah berhenti untuk memukau. Ketika Anda mengira one long take di 'Children of Men' adalah gimmick, Cuaron menebusnya dengan membuat sebuah film survival yang settingnya di luar angkasa yang openingnya adalah 17 menit long take. Alfonso Cuaron tidak pernah bercanda.

Itulah sebabnya film terbarunya, 'Roma', adalah sebuah film yang harus Anda saksikan. Dirilis di Netflix, 'Roma' bercerita tentang sebuah keluarga di Mexico pada tahun 1970-an. Kita melihat ibu rumah tangga bernama Sofia (Marina de Tavira) yang sepertinya gagal mempertahankan rumah tangganya. Suaminya pergi dan entah ia akan kembali. Sofia berusaha keras menjaga keutuhan rumah ini. Terutama karena dia punya anak-anak kecil yang membutuhkannya. Disanalah, seorang pembantu sekaligus baby sitter sekaligus tempat curhat sekaligus dewi penolong bernama Cleo (Yalitza Aparicio), menjadi perekat yang menyatukan semua keretakan ini.

Anda bisa melihat betapa terikatnya Alfonso Cuaron dengan cerita ini. Betapa intim dia dengan karakter-karakternya. Betapa familiar dia dengan kejadian yang sedang berlangsung di layar. Cuaron tidak hanya menyutradarai film ini, tapi dia juga menulis, menjadi salah satu produser, menjadi co-editor dan menjadi sinematografer Roma. Setiap frame yang ada di layar adalah bukti rasa cintanya Cuaron terhadap tokoh-tokoh di dalamnya. Terutama sosok Cleo.

Yalitza Aparicio yang belum pernah bermain film sebelumnya mendapatkan kehormatan untuk menjadi dewi di film ini. Setiap adegannya bersinar-sinar. Aparicio sanggup menampilkan begitu banyak emosi tanpa harus banyak bicara. Tatap matanya memancarkan begitu banyak matanya. Begitu banyak hal yang terjadi kepadanya dan orang-orang yang ada di sekelilingnya dan Aparicio berhasil menyampaikan itu semua dengan keanggunan yang biasanya ditampilkan oleh aktor profesional kelas A.

Dengan Aparicio di tangannya, Cuaron membawa penonton menyelami masa kecilnya. Celo adalah jantung yang berdetak di film ini. Lihat bagaimana Cuaron menggambarkan klimaks film ini. Setelah tragedi yang menimpanya dan Cleo menyaksikan dua anak majikannya sedang galau mendengar berita buruk dari ibunya. Lihat bagaimana ekspresi Cleo di perjalanan pulang. Sungguh sebuah penghormatan yang magis.

Keputusan Cuaron untuk merekam Roma dengan hitam putih adalah keputusan terbaik yang ia lakukan. Warna ini tidak hanya menjadi sebuah warna yang melankolis namun ia juga memberikan nuansa klasik. Setiap frame yang ada di layar terasa seperti sebuah mimpi yang sungguh-sungguh indah. Sebagai sinematografer, Cuaron tidak menggunakan banyak teknik yang njelimet. Shot-shotnya termasuk "sederhana". Cuaron memanfaatkan panning kamera dengan maksimal untuk merekam kehidupan karakter-karakternya.

Seperti biasanya, teknik long take dengan panning kamera ini justru membuat kita seolah-olah berada disana. Menjadi observer. Selain itu efeknya juga membuat Roma menjadi sangat sinematik. Komposisi gambar ditambah dengan blocking aktor yang sungguh ciamik menjadikan Roma sebagai salah satu film dengan gambar termewah tahun ini. Setiap adegan bisa Anda pause dan jadinya adalah sebuah wallpaper yang indah.

( Sumber : hot.detik.com )

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.